Pasar Music NFT bernilai US$2,85 miliar di 2024 (proyeksi US$3,65 miliar di 2025). Audius punya jutaan listener bulanan, Royal didukung 3LAU, Anotherblock bekerjasama dengan The Weeknd. Tapi sebagian besar pencipta independen masih kembali ke Spotify+ASCAP. Audit jujur: apa yang berhasil, apa yang gagal, dan apakah Indonesia perlu eksperimen serupa.
Sejak 2020, ada gelombang eksperimen blockchain yang mengklaim bisa menyelesaikan masalah inti tata kelola royalti musik: opasitas distribusi, lag pembayaran, dan kekuatan timpang label vs pencipta. Audius, Royal, Anotherblock, Opulous, Sound.xyz, Catalog — semua punya thesis yang mirip. Beberapa masih beroperasi 2026; beberapa pivot atau menyusut. Untuk konteks Indonesia, audit jujur eksperimen-eksperimen ini penting: bukan untuk dipuja sebagai solusi instan, juga bukan untuk dibuang sebagai mainan kripto.
FAKTA pasar: Music NFT Market bernilai US$2,85 miliar di 2024, diproyeksi US$3,65 miliar di 2025 (Global Growth Insights, Mei 2025). Untuk konteks: pendapatan industri musik global 2024 adalah US$29,6 miliar (IFPI Global Music Report). Music NFT adalah 9-12% dari total — kecil tapi tidak diabaikan.
1. Audius — streaming terdesentralisasi (2018–sekarang)
Lahir: 2018, dipimpin Roneil Rumburg dan Forrest Browning. Blockchain: awalnya Ethereum, migrasi ke Solana 2020. Token: AUDIO. Klaim utama: platform streaming musik yang langsung membayar artis dengan token, tanpa label atau publishing intermediary.
Skala 2024–2025: Audius melaporkan jutaan monthly active listeners. Beberapa artis besar (RAC, Skrillex, Deadmau5, Diplo) mengupload konten Audius secara periodik. Tetapi sebagian besar pendapatan riil artis tetap dari Spotify/Apple Music — Audius lebih sebagai "channel sekunder" daripada pengganti.
Yang berhasil:
- Metadata attribution di blockchain memang tahan-manipulasi.
- Pembayaran near-instant ke wallet artis.
- Artis menerima 90%+ dari yang dibayar listener (vs ~70% Spotify setelah cut platform + label).
Yang tidak berhasil:
- Volume pendapatan absolut tetap kecil — token AUDIO jatuh signifikan dari ATH.
- Discoverability rendah — Audius tidak punya algoritma rekomendasi sekuat Spotify.
- Friksi onboarding — listener harus install wallet, paham crypto. Mayoritas penonton musik tidak mau itu.
2. Royal — fractional ownership royalti (2021–sekarang)
Lahir: 2021, didirikan 3LAU (Justin Blau) dan JD Ross. Blockchain: Polygon. Klaim: fans bisa membeli "tokenized share" dari royalti masa depan sebuah lagu/album.
Cara kerja: artis (mis. The Chainsmokers, Nas, Diplo) merilis sebuah album. Sebagian persentase dari royalti rekaman lagu di-tokenisasi sebagai NFT. Fans membeli NFT; setiap kali lagu di-stream di Spotify, smart contract mengalirkan persentase royalti ke holder NFT.
Yang berhasil:
- Mode pendanaan baru untuk artis yang tidak ingin terikat label.
- Transparansi pembagian — holder bisa melihat pembayaran on-chain.
Yang masih jadi pertanyaan:
- Compliance dengan UU Sekuritas: NFT yang menjanjikan return dari "common enterprise" sangat dekat dengan definisi sekuritas (Howey Test di AS). Royal bekerja dalam regulasi yang masih cair.
- Likuiditas pasar sekunder: NFT yang dibeli sulit dijual kembali kalau lagu tidak viral.
- ROI riil: beberapa drop awal Royal menunjukkan return modest atau negatif untuk holder.
3. Anotherblock — institutional approach (2022–sekarang)
Lahir: 2022 di Stockholm. Blockchain: Ethereum. Klaim: mirip Royal — tokenisasi royalti rekaman, tapi dengan kurasi label dan artis besar.
Drop terkenal: The Weeknd ("Take My Breath" royalty share), R3hab, Major Lazer. Setiap drop biasanya menjual 100-1000 NFT dengan harga US$100-1000 per unit, mewakili persentase kecil royalti.
Diferensiasi dari Royal: Anotherblock lebih institutional, kerjasama langsung dengan label (bukan artis independen), KYC ketat untuk pembeli, dan struktur SPV (Special Purpose Vehicle) yang lebih jelas dari sisi compliance.
4. Sound.xyz, Catalog, Opulous: ekosistem yang lebih luas
- Sound.xyz: NFT collectibles untuk single — fans membeli edisi terbatas dari sebuah single, mendapat akses ke konten eksklusif. Tidak fokus royalti, tetapi support langsung.
- Catalog: mirip Sound.xyz tapi fokus mencatat sejarah ownership track digital. Lebih kuratorial.
- Opulous: menawarkan music-backed loans — artis pinjam dana dari investor dengan jaminan royalti masa depan. Mode lebih dekat ke financial product daripada NFT.
5. Apa yang sebenarnya berhasil diselesaikan blockchain?
| Masalah Royalti Tradisional | Apakah Blockchain Menyelesaikan? | Catatan |
|---|---|---|
| Lag pembayaran 6-18 bulan | YA (sebagian) | Pembayaran on-chain bisa instant, tapi koneksi ke pendapatan platform tradisional tetap punya lag |
| Opasitas breakdown | YA | Smart contract publik, semua bisa lihat aliran dana |
| Cut platform 30% | SEBAGIAN | Audius mengurangi cut, tapi gas fee + likuiditas token jadi cost baru |
| Pencipta tidak terdaftar | YA (untuk yang tau crypto) | Artis bisa upload langsung; tetapi asumsi musisi indie paham wallet |
| Splits ribet (writer-publisher) | YA | Smart contract bisa split otomatis ke multiple address |
| Klaim internasional | YA (jika listener pakai platform crypto-native) | Tidak ada batas yurisdiksi, tapi reach masih kecil |
| Discoverability | TIDAK | Algoritma Spotify/TikTok tetap dominan untuk reach |
| Volume pendapatan absolut | TIDAK (belum) | 9-12% pasar; pencipta serius tetap butuh Spotify/ASCAP |
6. Risiko dan kritik yang sah
- Volatilitas token: nilai AUDIO atau token serupa fluktuatif. Musisi yang menerima 100 token saat harga US$1 melihat nilai turun 90% dalam 12 bulan.
- Compliance regulator: SEC AS dan otoritas Eropa terus mempertanyakan status NFT royalti sebagai sekuritas. Beberapa proyek (mis. Royal) mengoptimalkan struktur secara hati-hati; beberapa proyek lain hilang ditelan regulator.
- Friksi UX: instalasi wallet, gas fee, KYC blockchain — semua adalah friksi yang membuat penetrasi mainstream sulit.
- Centralisasi tersembunyi: banyak "platform terdesentralisasi" sebenarnya bergantung pada perusahaan tunggal yang bisa menutup operasinya.
- Attribusi dispute: blockchain tidak menyelesaikan pertanyaan "siapa yang sebenarnya menulis lagu ini" — ia hanya merekam apa yang diklaim. Dispute split sheet tetap perlu mediasi off-chain.
7. Konteks Indonesia: relevansi atau distraksi?
Pertanyaan kritis: apakah pencipta Indonesia akan terbantu oleh eksperimen blockchain?
Argumen pro:
- Pencipta Indonesia yang frustrasi dengan opacity LMK bisa eksplor channel paralel — Audius sebagai backup, atau Anotherblock-style tokenization untuk single yang sudah viral.
- Untuk pencipta diaspora atau yang punya audiens internasional, blockchain bisa menjadi cara collect royalti tanpa friksi reciprocal CISAC yang lambat.
Argumen kontra:
- Adopsi crypto di Indonesia masih kecil. Listener Indonesia mayoritas tidak punya wallet.
- Friksi regulasi crypto di Indonesia (Bappebti, OJK) bisa membuat eksperimen blockchain musik berjalan di area abu-abu hukum.
- Resource yang dikeluarkan untuk eksperimen blockchain mungkin lebih efektif dialokasikan untuk reformasi LMK domestik (transparansi audit, dashboard pencipta) yang lebih impactful untuk mayoritas musisi.
8. Yang bisa Indonesia ambil dari pengalaman global
- Smart contract logic untuk split sheet otomatis: bahkan tanpa blockchain publik, prinsip "split otomatis berdasarkan kontrak" bisa diterapkan ke sistem LMK domestik. WAMI/KCI bisa membuka API untuk split otomatis ke multiple bank account secara real-time.
- Dashboard transparansi yang on-chain-equivalent: tidak harus blockchain, tetapi dashboard pencipta yang menampilkan setiap pembayaran setiap pengguna komersial dengan timestamp dan reference — meniru "transparansi on-chain" tanpa overhead crypto.
- Tokenization untuk pendanaan, bukan distribusi: jika ada pencipta Indonesia yang ingin pre-sale royalti masa depan untuk modal kerja, framework Anotherblock/Royal bisa menjadi referensi — bukan untuk menggantikan LMK, tetapi sebagai produk finansial paralel.
- Tetap fokus reformasi domestik dulu: blockchain music adalah nice to have; transparansi audit LMKN/WAMI/KCI adalah need to have. Prioritaskan yang kedua.
Catatan editorial. Status proyek blockchain musik bergerak cepat dan beberapa platform yang disebut bisa berubah operasinya antara penulisan dan pembacaan artikel ini. Klaim pasar (US$2,85 miliar Music NFT 2024) merujuk pada Global Growth Insights Mei 2025; verifikasi ulang sebelum mengambil keputusan investasi. Sumber utama: ScoreDetect Blog, Gemini Cryptopedia, Solana Compass, Cointelegraph Magazine, Blockchain Council — diakses Mei 2025–Mei 2026.