Populasi 1,4 miliar, industri film besar, sistem royalti yang baru-baru ini reformasi struktural — IPRS adalah cermin paralel paling dekat untuk Indonesia. Pelajaran dari sengketa publisher vs PRO, putusan MA Delhi, dan ekosistem Bollywood–T-Series.

Jika Korea adalah aspirasi dan Jepang adalah benchmark, India adalah cermin. Pasar besar, masyarakat majemuk, struktur royalti yang baru-baru ini reformasi — paralel India ke Indonesia jauh lebih dekat daripada perbandingan ke Eropa atau Amerika.

1. IPRS: 56 Tahun Penuh Drama

IPRS (Indian Performing Right Society) didirikan 1969. Sejarahnya turbulen:

  • 1969–1990: Era awal, struktur didominasi oleh komposer film senior.
  • 2017: IPRS hampir kehilangan registrasi karena sengketa internal — anggota CISAC sempat ditangguhkan.
  • 2018: Restrukturisasi besar dengan UU Hak Cipta amandemen — pencipta dapat suara lebih kuat.
  • 2024: IPRS kumpul ₹600+ crore (~Rp 1,1 triliun).

2. Amandemen UU Hak Cipta India 2012: Kemenangan Pencipta

India merevisi UU Hak Cipta 2012 dengan reformasi penting:

  • Pencipta lagu film tidak otomatis kehilangan publishing right ke produser film — sebelumnya banyak hilang.
  • Hak royalti pertunjukan tidak bisa dialihkan kepada publisher/label tanpa kompensasi proporsional.
  • Boards di PRO harus seimbang antara pencipta dan publisher.

Reformasi ini didorong demonstrasi publik komposer Bollywood senior (Javed Akhtar, Pritam, A.R. Rahman). Indonesia 2026 belum mencapai level political mobilization seperti ini.

3. Bollywood: Engine Royalti

Industri film India produksi 1.500+ film/tahun. Setiap film rata-rata 5–10 lagu original. Output composer:

  • 15.000+ lagu Bollywood baru per tahun.
  • Stream miliaran kali di JioSaavn, Spotify India, YouTube.
  • Royalti pertunjukan radio + TV broadcasts massive.

Composer top (A.R. Rahman, Pritam, Vishal-Shekhar) bisa hasilkan ratusan juta rupee/tahun dari publishing alone.

4. T-Series: Label Raksasa & Sengketa

T-Series adalah label terbesar India dengan ekosistem unik: produksi musik, channel YouTube terbesar dunia (250 juta+ subscriber), distribusi domestik & global.

Sengketa berulang dengan IPRS:

  • T-Series ingin keluar dari IPRS untuk lisensi langsung — argue bisa lebih efisien.
  • Pencipta khawatir kehilangan power tawar kolektif.
  • Pengadilan India 2020-an putuskan: label tidak bisa unilateral keluar dari sistem PRO untuk repertoar di mana pencipta masih anggota IPRS.

5. Streaming India: Tarif Terendah Dunia

Spotify India, JioSaavn, Wynk Music — tarif per stream untuk pasar India sangat rendah karena:

  • Harga subscription sangat murah (₹99/bulan ~Rp 18.000).
  • Banyak pengguna gratisan dengan iklan rendah CPM.
  • Volume tinggi tapi per-stream payout mungkin US$ 0.0005 — sepertiga Indonesia.

Konsekuensi: composer tidak bisa hidup dari streaming saja — harus diversifikasi (sync film, live, brand).

6. Putusan MA Delhi & Bombay

Pengadilan India aktif membentuk yurisprudensi royalti:

  • 2019 (Bombay HC): Royalti pertunjukan untuk lagu film tidak bisa dipindahkan ke produser film tanpa kompensasi terpisah.
  • 2021 (Delhi HC): Restoran wajib lisensi dari IPRS + PPL untuk background music — ditegaskan ulang.
  • 2023 (Supreme Court): Konfirmasi pencipta lagu berhak atas royalti pertunjukan independen dari hak rekaman.

7. Mengapa India = Cermin Indonesia

Tujuh paralel penting:

  1. Populasi besar dengan keberagaman bahasa & budaya.
  2. Industri film besar yang menggerakkan musik (Bollywood vs Indonesia film + sinetron).
  3. Sistem PRO yang baru-baru saja reformasi.
  4. Sengketa label vs PRO yang chronically tegang.
  5. Streaming tarif rendah karena harga subscription murah.
  6. Pencipta lagu mulai mobilisasi politik (paralel suara Anang/Glenn Fredly era 2019).
  7. Pengadilan aktif membentuk presedensi.

8. Pelajaran Spesifik untuk Indonesia

  • Reformasi UU Hak Cipta amandemen sebagaimana India 2012 — eksplisit lindungi hak pencipta dari hilangnya publishing ke produser film/label.
  • Mobilisasi politik composer — India dipimpin Javed Akhtar, Indonesia butuh figur serupa.
  • Diversifikasi pendapatan — streaming saja tidak cukup, replikasi model India: sync + live + brand.
  • Yurisprudensi aktif — push test case strategis ke pengadilan.

Baca Juga

Sumber riset publik: IPRS Annual Report 2023–2024; CISAC Global Collections Report 2024; arsip putusan Bombay High Court (2019), Delhi High Court (2021), Supreme Court of India (2023); Indian Copyright (Amendment) Act 2012; reportase Music Business Worldwide India.

Diperbarui: 10 Mei 2026.