Audit lima sistem royalti tetangga ASEAN — siapa yang sudah jauh lebih maju dari Indonesia (Filipina, Malaysia), siapa yang setara (Thailand, Vietnam), dan apa yang bisa dipinjam dari masing-masing untuk reformasi LMKN 2026.
Indonesia sering bandingkan diri dengan Eropa atau Amerika — perbandingan yang membuat sistem kita tampak hopeless. Bandingkan dengan ASEAN: Indonesia ternyata bukan paling tertinggal, tapi juga jauh dari paling maju.
1. Malaysia: MACP — Senior ASEAN
MACP (Music Authors' Copyright Protection) Malaysia didirikan 1989. Posisi 2024:
- Anggota CISAC penuh sejak 1990-an.
- Pengumpulan ~RM 80 juta/tahun (~Rp 280 miliar).
- Database digital terintegrasi sejak 2010-an.
- Reciprocal agreement dengan 70+ PRO global.
Plus: PRISM (Performers and Artistes Rights Malaysia) untuk hak terkait. Pemisahan fungsi mirip Indonesia (LMK Pencipta vs LMK Hak Terkait), tapi koordinasinya jauh lebih mulus.
2. Filipina: FILSCAP — Surprise Strong Performer
FILSCAP (Filipino Society of Composers, Authors and Publishers) didirikan 1965. Sering kurang diapresiasi tapi solid:
- Pengumpulan ~PHP 400 juta/tahun (~Rp 110 miliar).
- Sistem distribusi cue sheet wajib untuk semua broadcaster.
- Lisensi langsung ke kafe & retail dengan tarif standardisasi.
- Kemitraan aktif dengan platform digital (Spotify, Apple Music).
Filipina punya keunikan: bahasa Inggris dominan + diaspora global → musik Filipina sering masuk pasar AS, royalti reciprocal mengalir kembali.
3. Thailand: MCT — Setara Indonesia
MCT (Music Copyright Thailand) didirikan 1994. Posisi 2024:
- Pengumpulan ~THB 200 juta/tahun (~Rp 90 miliar).
- Anggota CISAC.
- Tantangan mirip Indonesia: penagihan komersial yang masih disengketakan asosiasi (hotel, kafe).
- RUU Hak Cipta amandemen 2022 yang kontroversial — beberapa pasal menguntungkan platform lebih dari pencipta.
Thailand juga punya RPC (Royalty Protection Center) untuk hak terkait — paralel dengan SELMI Indonesia.
4. Vietnam: VCPMC — Pertumbuhan Cepat
VCPMC (Vietnam Center for Protection of Music Copyright) didirikan 2002 — paling muda di lima negara ini, tapi pertumbuhannya impresif:
- 2010: ~VND 20 miliar/tahun.
- 2024: ~VND 300+ miliar/tahun (~Rp 200 miliar) — naik 15x dalam 14 tahun.
- Booming karaoke + streaming domestik (Zing MP3, NhacCuaTui).
- Sengketa berkelanjutan dengan operator karaoke besar untuk standardisasi tarif.
5. Singapura: COMPASS — Niche tapi Efisien
Singapura kecil (populasi 6 juta) tapi COMPASS (Composers and Authors Society of Singapore) efisien dengan ~SGD 30 juta/tahun (~Rp 350 miliar). Per kapita: tertinggi di ASEAN.
Faktor: PDB tinggi, bahasa Inggris dominan, ekosistem hukum kuat, banyak HQ regional label/publisher di Singapura.
6. Posisi Indonesia di ASEAN
Estimasi pengumpulan total LMKN + KCI + WAMI 2024: ~Rp 600–800 miliar (data publik tidak konsisten).
Per kapita: Indonesia jauh tertinggal. Total absolut: Indonesia terbesar di ASEAN karena populasi 280 juta — tapi efisiensi per pencipta paling rendah.
7. Lima Pelajaran Spesifik
- Dari Malaysia: integrasi database digital sejak awal — investasi infrastruktur.
- Dari Filipina: cue sheet wajib semua broadcaster — push regulasi.
- Dari Thailand: hindari amandemen UU yang menguntungkan platform di atas pencipta.
- Dari Vietnam: fokus karaoke + streaming domestik sebagai kategori serius.
- Dari Singapura: tarik kantor publisher regional ke Jakarta dengan insentif.
8. ASEAN Music Rights Network (AMRN)?
Belum ada konsorsium formal seperti CISAC versi ASEAN. Beberapa diskusi pengamat industri menyarankan pembentukan AMRN:
- Standardisasi reciprocal agreement antar 6+ negara ASEAN.
- Database repertoar regional tunggal.
- Posisi tawar kolektif terhadap platform global (TikTok, Spotify).
Indonesia bisa jadi inisiator — populasi terbesar, ekonomi terbesar.
Baca Juga
- Perbandingan Royalti Indonesia vs Luar Negeri
- Sistem Royalti India
- CISAC — Aliran Royalti Internasional
- SILM — Indonesia Music Data Centre
Sumber riset publik: CISAC Global Collections Report 2024; MACP, FILSCAP, MCT, VCPMC, COMPASS annual reports 2023–2024; APRA AMCOS regional partnership briefings; ASEAN Intellectual Property Office statements.